Oleh : Peter B.
"Awal yang sulit membawa akhir yang baik
- John Heywood (dramawan Inggris)
"Lebih kuat daripada tekad untuk menang adalah keberanian untuk memulai sesuatu yang baru"
- Anonim
PENGGANTI YANG GELISAH
Hari itu merupakan hari yang selalu diingat oleh Yosua. Pagi hari, sesaat setelah ia bangun dari tempat tidur di dalam tenda kediamannya, ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya bukan orang yang sama dengan kemarin. Ya, hari itu merupakan hari pertama setelah wafatnya Musa, hamba Tuhan yang juga pemimpin besar Israel, yang pernah dilayaninya hampir setengah abad lamanya. Hari itu adalah awal baru bagi Yosua. Baru beberapa minggu yang lalu, ia masih dipanggil bujang atau pelayan Musa. Kini, ia adalah pemimpin pengganti Musa. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terbayangkan atau bahkan terlintas di pikiran seorang Yosua yang terbiasa melayani dan berada di belakang layar ketimbang menampakkan diri untuk menunjukkan kekuasaannya. Bagi Yosua, ini bukan saja sesuatu yang baru tetapi juga sesuatu yang dahsyat, malah teramat dahsyat. Ia harus menggantikan seorang tokoh besar yang tidak mungkin tergantikan!
Memang di depan Yosua kini terbentang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan yang memiliki dua sifat yang paling enggan dihadapi oleh siapapun manusia di muka bumi. Tugas itu BARU. Tidak hanya itu, pekerjaan itu juga BESAR. Persoalannya adalah bagaimana mungkin seseorang yang sama sekali tidak pernah berusaha menjadi pemimpin, tidak memiliki keinginan tampil sebagai pemimpin, lebih suka menempatkan diri sebagai hamba daripada sebagai tuan, dan belum memiliki pengalaman kepemimpinan atau reputasi sebagai seseorang yang luar biasa -sanggupkah orang sedemikian menyambut bahkan mengerjakan sesuatu yang baru lagi besar? Kenyataannya, Yosua sanggup. Bahkan di antara hamba-hamba Tuhan yang tercatat di Alkitab kita, Yosua berada di deretan hamba-hamba Tuhan yang memiliki kualitas tinggi di mata Tuhan. Ia termasuk salah satu hamba Tuhan paling berhasil karena Yosua membuktikan dirinya dapat menyelesaikan tugasnya sebagai seorang hamba Tuhan dengan tuntas. Sebab itu, seharusnya kitapun tidak berkecil hati. Jika Allah yang menyertai Yosua memampukannya untuk berhasil, Allah yang sama yang menyertai kita juga akan membawa kita pada keberhasilan yang sama. Bukankah Ia adalah Tuhan yang berjanji, "....sesungguhnya hambaKu akan berhasil..." ( Yes. 52:13).
TUHAN SEDANG MENGADAKAN SESUATU YANG BARU
Allah kita suka mengadakan sesuatu yang baru. Dan Ia sedang mengerjakannya sekarang ini. Hembusan angin Rohnya semakin keras memasuki tahun 2005 ini. KegerakanNya dimulai kembali. Apakah tandanya? Benarkah ada sesuatu yang baru yang sedang Ia kerjakan? Bagaimanakah kita dapat mengetahuinya?
Firman Tuhan dalam Yesaya 43:19, "Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?..." Sesuatu yang baru akan Tuhan kerjakan. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya akan Ia mulai. Dua hal yang Tuhan minta kepada kita. Pertama, Ia memerintahkan kita untuk melihatnya dimana firmanNya berkata, "Lihat...!" Dan kedua, Ia menantang kita untuk mengetahuinya saat ia berfirman, "...belumkah kamu mengetahuinya!"
Ada hal-hal yang menuntut perhatian kita secara lebih. Walaupun mata kita terbuka dan kita tidak memiliki cacat pandang atau sakit pada mata kita, seringkali kita tidak akan mengetahui beberapa hal tertentu jika kita tidak memusatkan perhatian atau pandangan kita. Suatu kali, pada saat naik perahu di tengah laut, pandangan saya tertumpu pada lautan yang luas terbentang. Sekalipun begitu, seringkali saya diminta untuk memperhatikan dengan seksama jika ingin melihat adanya binatang laut yang sedang lewat atau muncul di permukaan air. Cukup sering teriakan terdengar, "Lihat, ada ikan di sebelah sana..." atau "Perhatikan, ada makhluk air yang muncul..." Dan jika saya mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjukkan namun saya tetap saja belum dapat melihatnya, maka saya pasti mendengar kalimat ini, "....apa kamu belum tahu? Itu di dekat sana!" atau "Masakan kamu tidak mengetahuinya? Ikan itu kan cukup besar!" Demikianlah kehendak Tuhan atas kita supaya kita dapat melihat dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakanNya atas hidup kita. Lihat dan ketahui! Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baru. Inilah beberapa tandanya.
Sesuatu yang baru dari Tuhan ditandai dengan penolakan Tuhan atas mereka yang tidak dikenanNya. Di sini Tuhan memisahkan apa yang kudus dan tidak kudus. Perhatikanlah beberapa kesamaan berikut ini : Nuh memulai sesuatu yang baru bersama Tuhan setelah Tuhan menghapuskan semua umat manusia di muka bumi; Tuhan mengerjakan sesuatu yang baru saat Ia menolak semua orang yang lain untuk memilih satu orang Abraham atas dasar kasih karuniaNya untuk menggenapi rencana keselamatanNya atas umat manusia; juga tahapan yang baru dimulai saat Saul ditolak menjadi raja supaya Daud naik tahta dan membawa keagungan namaNya; bahkan baru setelah Yudas Iskariot tidak lagi termasuk dalam golongan murid-murid utama Kristus, maka Roh Kudus dicurahkan dan jemaat Tuhan berdiri untuk pertama kalinya. Jadi, jelaslah bahwa jika Tuhan menolak mereka yang tidak dapat bekerja bersamaNya, Ia sedang memulai sesuatu yang baru. Bukankah Rasul Paulus menulis dengan indah, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: YANG LAMA SUDAH BERLALU, SESUNGGUHNYA YANG BARU SUDAH DATANG?" ( 2 Kor. 5.17).
Babak baru dari Tuhan dimulai pada saat Tuhan meneguhkan kembali perjanjianNya dengan hamba-hambaNya. Inilah beberapa contoh perjanjian Tuhan yang diteguhkan dan diperbarui. Sekeluarnya Nuh dari bahtera dan selagi ia mempersembahkan korban bakaran, pelangi pertama tampak di awan-awan dan Tuhan pun berfirman, "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi” (Kej. 9:9-11). Setelah Lot pergi meninggalkan Abraham, Tuhan memberikan janji ini kembali kepada Abraham, "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu" ( Kej. 13:14-17). Beberapa ratus tahun kemudian, Tuhan juga mengadakan perjanjian dengan Yosua sebagai hambaNya, Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yos. 1:2-5). Dengan banyak contoh yang lain, pola ini tetap sama sepanjang Tuhan bekerja di dunia melalui hamba-hambaNya. Jadi, perhatikanlah sekarang, bukankah Tuhan juga telah mengadakan perjanjian baru dengan kita?
Kegerakan yang baru dari Tuhan ditandai oleh pembaharuan komitmen dari hamba-hambaNya. Ketika Abraham percaya, maka Tuhan memperhitungkan hal itu sebagai suatu kebenaran (Kej. 15:6). Di situlah Tuhan mengerjakan awal yang baru. Pada saat Daud bernazar untuk menjadi raja di dalam kebenaran dan dilanjutkan dengan komitmennya untuk membangun bait Allah, maka Tuhan mengadakan perjanjian baru dengan Daud tentang keturunannya (2 Sam. 7:8-16). Dan ketika 120 orang murid-murid Yesus berkomitmen untuk percaya serta menantikan janji kedatangan Roh Kudus untuk memberikan mereka kuasa dalam mengerjakan amanat agung Tuhan, maka Tuhan memulai suatu era baru dimana gerejaNya lahir dan dibangun sebagai alat kemuliaanNya (Kis. 12:12-15). Tidaklah mengherankan jika kemudian para pengikut Kristus sebagai jemaat mula-mula terkenal sebagai orang-orang yang menjungkirbalikkan dunia (Kis. 17:6). Di masa modern, sekelompok orang yang berkomitmen untuk mencari wajah Tuhan dan hadiratNya, berkumpul di satu kandang kuda di sudut jalan Azusa, California. Berhari-hari mereka berkumpul, berdoa dan menyembah untuk meminta suatu terobosan rohani, mula-mula dalam kehidupan pribadi mereka dan kemudian bagi gereja-gereja mereka. Maka di tahun 1905, kegerakan Pentakosta pun dimulai untuk kemudian menjalar ke seluruh dunia. Sesungguhnya pada saat kita menyerahkan diri sepenuhnya, berkomitmen total untuk hidup bagi kemuliaanNya, Tuhan sedang memulai sesuatu yang baru dalam hidup kita, di tengah-tengah keluarga kita, yang bahkan ini dapat membawa dampak bagi gereja di mana kita berada, sekolah kita, tempat pekerjaan kita, lingkungan kita, kota dan bangsa kita. Untuk anggur yang baru, harus ada kirbat yang baru. Dan saat kita menyediakan kirbat kehidupan yang baru bagi Tuhan maka anggur baru kegerakanNya pasti mulai dicurahkan! Haleluya.
MENGAMBIL BAGIAN DALAM HAL-HAL BARU DARI TUHAN
Hal-hal baru sering menarik perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang tergila-gila dengan hal-hal yang baru. Sejarahwan dan novelis Amerika, Shelby Foote menyimpulkan, "Di atas semua hasrat umat manusia, kecintaan akan sesuatu yang baru hampir menguasai pikiran manusia". Kenyataannya, dunia tidak pernah menyuguhkan sesuatu yang baru kepada manusia yang hidup di dalamnya (Pkh. 1:8-11). Hanya di dalam Tuhan, kita dapat menikmati banyak hal yang baru karena Allah kita suka menciptakan dan memberikan hal-hal yang baru kepada umatNya. Perhatikanlah, manna yang diberikan kepada bangsa Israel selalu baru ( Kel. 16:14-21 ), kasih setiaNya selalu baru tiap pagi ( Rat. 3:22 ), ia menjadikan kita manusia yang baru ( Yoh. 3:5; 2 Kor. 5:17 ) dan memberikan kekuatan yang baru kepada kita yang menanti-nantikan Dia ( Yes. 40:31 dan 2 Kor. 4:16 ), dan di masa depan segala sesuatu dijadikan baru, termasuk langit dan bumi yang baru! ( Wah. 21:1-5)
Sekarang, bagaimanakah kita menyambut perkara-perkara baru dari Tuhan dan mengambil bagian di dalamnya? Sebagaimana Yosua dan generasi baru orang Israel bersiap memasuki perbatasan tanah Kanaan untuk mengalami penggenapan janji Tuhan akan Tanah Perjanjian, kita pun harus menyiapkan diri untuk mengalami kegenapan janji rencana Tuhan dalam hidup kita. Tuhan rindu hamba-hambaNya mencapai tujuan dan memperoleh manifestasi dari janjiNya yang mulia itu. Sudah siapkah Anda untuk hal-hal baru dari Allah? Berikut ini beberapa hal yang perlu kita kerjakan sebagai suatu persiapan kudus bagi Tuhan :
1. Melupakan Apa yang di Belakang Kita
Pesan Tuhan sangat jelas bagi mereka yang ingin menangkap perkara-perkara baru yang Tuhan sediakan bagi mereka : "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh" ( Yes. 43:18-19 ). Ini bukan berarti kita tidak perlu belajar dari sejarah atau mengenang kebaikan Tuhan di masa lampau. Maksud dari pesan ini sesungguhnya adalah bahwa apa yang telah Tuhan kerjakan di masa lalu tidak boleh menghambat kita untuk meraih perkara-perkara indah yang Tuhan siap kerjakan di masa mendatang. Apa yang telah diperbuat Allah di masa lampau sesungguhnya tidak akan dikerjakanNya lagi. Tuhan akan mengadakan sesuatu yang sama sekali baru, yang belum pernah terjadi atau terpikirkan benak manusia. Kejayaan atau keberhasilan hamba-hamba Tuhan di waktu yang lalu tidak boleh menjadi target kita karena ada kemuliaan baru yang lebih tinggi yang akan dicurahkan Tuhan atas kehidupan hamba-hambaNya di waktu-waktu ini.
Jadi, jika keberhasilan, keajaiban, kecemerlangan karya Tuhan di waktu yang lalu tidak boleh menjadi penghambat kita, terlebih lagi kegagalan, kesalahan, atau kenangan-kenangan akan kejadian atau pribadi-pribadi yang pernah menyakitkan kita di masa yang lalu SEKALI-SEKALI tidak pernah boleh menghalangi kita untuk naik kepada tingkatan baru dimana Tuhan memanggil kita. Semua hal yang pahit harus dibuang setelah kita menarik pelajaran yang baik daripadanya. Namun semangat kita, hati kita, roh kita, kerinduan serta hasrat kita untuk meraih yang terbaik dari Tuhan sama sekali tidak boleh kendor karena semua yang buruk di masa lalu itu. Satu contoh yang luar biasa mengenai hal ini tampak dalam salah satu upacara tradisi suku Indian Muclasse. Suku Indian ini setiap tahunnya mengadakan upacara ritual panen dan bersih desa. Mula-mula sebagai persiapan, mereka membuat baju-baju baru, perabotan rumah yang baru, perlengkapan rumah tangga yang baru dan sebagainya. Semuanya itu kemudian disimpan di satu rumah di luar desa mereka. Untuk apa? Inilah maksudnya : ketika segala sesuatunya siap, segenap penduduk desa mengeluarkan seluruh isi rumah mereka. Itu termasuk kotoran-kotoran rumah mereka, perabotan rumah mereka, mainan anak-anak mereka, bahkan rumput-rumput liar atau lantai yang kotor dibersihkan seluruhnya. Tidak ketinggalan pula makanan yang tersisa semuanya dilemparkan keluar rumah untuk dikumpulkan menjadi satu di jantung desa. Setelah semua barang atau perlengkapan yang lama itu ditumpuk menjadi satu, kepala suku menyalakan api dan membakar tumpukan kotoran atau barang-barang lama milik penduduk tersebut. Selagi api menyala, penduduk desa menanggalkan pakaian mereka dan melemparkan ke atas api yang menyala. Api terus dinyalakan dan dijaga kobarannya sampai mereka melihat semua sampah itu terbakar habis menjadi abu. Mereka bahkan rela menunggu 3 hari untuk memastikan sampah itu terbakar habis sama sekali. Di hari keempat, setelah membersihkan badan dan mengenakan pakaian yang baru, sekali lagi mereka berkumpul di tengah desa dimana kepala suku menyalakan api baru. Dari nyala api itu, para kepala keluarga membawa pulang obor mereka ke rumah mereka masing-masing. Yang lama sudah berlalu. Awal yang baru telah datang.
Bagi suku Indian Muclasse, untuk masuk dalam awal yang baru mereka harus melupakan bahkan menghapuskan secara nyata apa yang lama dari hidup mereka. Betapa kita harus melakukan hal yang sama untuk masuk dalam kegerakan Tuhan yang baru dalam hidup kita! Hal-hal lama yang menjadikan hati kita berat dan merasa sayang untuk melangkah dalam lembaran baru bersama Tuhan layak dimusnahkan selama-lamanya. Tanpa semuanya itu lenyap seperti abu, kita tidak akan pernah melihat kemuliaan Tuhan lebih lagi. Tidak mengherankan apabila hamba Tuhan yang dijuluki Obor Allah di Asia, John Sung, seorang jenius berkebangsaan Korea, sesaat setelah menerima panggilan pelayanan dari Tuhan, membuang seluruh ijazah doktor dan penghargaan-penghargaan tertinggi dari universitas-universitas ternama di Amerika tempatnya belajar. Di atas kapal dalam perjalanan pulang menuju Korea, ia mengambil semua kertas-kertas berharga itu dan melemparkannya ke tengah laut. Bagi John Sung, yang lama dapat menghambat hal-hal baru dari Tuhan yang jauh lebih berharga. Karena itu, ia membuang semua yang lama untuk mendapatkan kemuliaan baru di dalam Tuhan.
Kita harus membajak dan tidak pernah lagi menoleh ke belakang ( Luk. 9:62 ). Seperti Rasul Paulus yang berhasil menyelesaikan tugasnya selama di bumi, kita harus menganggap apa yang DAHULU merupakan keuntungan, menjadi kerugian karena Kristus
( Fil. 3:7-8 ). Kita harus melepaskan semua hal yang lalu dan menganggapnya sampah supaya kita memperoleh Kristus. Ya, melupakan apa yang di belakang kita merupakan keputusan yang tidak pernah sia-sia jika kita menginginkan masuk sepenuhnya dalam rencana Tuhan ( Fil. 3:13
).
2. Menguatkan dan Meneguhkan Hati Kita untuk Masuk Tahapan yang Baru di Dalam Tuhan
Meninggalkan segala sesuatu di belakang kita termasuk cita-cita, keluarga, harta benda, teman-teman atau orang-orang terdekat kita tidak pernah merupakan sesuatu yang mudah. Terlebih lagi, tahapan yang baru di dalam Tuhan pasti penuh dengan tantangan yang lebih besar yang siap menghadang serta menghalangi langkah kita. Di titik ini, pilihan kita menentukan keberhasilan langkah kita. Di titik ini, kita dapat menjadi lemah dan undur. Atau sebaliknya, kita bangkit dan menguatkan iman kepercayaan kita kepada Allah.
Istri Lot merupakan contoh buruk dalam hal ini. Sesaat setelah malaikat-malaikat mengangkat dia beserta suami dan anak-anaknya meninggalkan Sodom, malaikat-malaikat itu berpesan untuk tidak menoleh ke belakang. Sayangnya, hati istri Lot penuh keberatan-keberatan sedangkan imannya lemah. Kehilangan harta benda, kemewahan, kenyamanan hidup, teman-teman pergaulan dan tetangga baik membuatnya hancur. Ia tidak siap dan tidak rela kehilangan semua itu dalam sekejap. Istri Lot pun menoleh. Ia terkutuk dan binasa menjadi tiang garam.
Lain dengan Yosua. Ia memang sempat bimbang hati, takut, lemah bahkan gentar sepeninggal Musa. Tetapi ia membuka telinganya kepada perkataan Tuhan, "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi....Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi ( Yos. 1 :6-7,9 ). Yosua menanggapi firman Tuhan dengan iman. Ia menaruh pengharapan serta menguatkan imannya. Dan, keberhasilan Yosua pun tercatat indah dalam sejarah.
Kita dapat memilih sikap seperti istri Lot atau percaya kepada Tuhan dengan segenap hati seperti Yosua. Yang satu menghasilkan kegagalan dan kebinasaan yang memalukan. Yang satu lagi membawa kemuliaan dan keberhasilan kekal di dalam Tuhan.
Terhadap sesuatu yang baru dari Tuhan, sekalipun itu berat dan penuh tantangan, semuanya tetap layak kita jalani. Asalkan bersama dengan Tuhan, tidak ada sesuatu yang terlampau sukar, terlalu menakutkan, atau sedemikian mengerikan dapat mengalahkan kita. Hanya saja, kita harus percaya kepada Dia yang telah memanggil kita dan membawa kita kepada masa depan yang baru itu.
Sudah beberapa kali saya membawa anak saya, Herbert, berjalan-jalan ke Plaza-plaza di Surabaya. Dan saya tidak pernah lupa bagaimana sikap dan perubahan wajahnya ketika pertama kali naik eskalator (tangga berjalan) atau lift. Mimik muka dan gerak tubuh yang ketakutan tampak jelas saat kami naik atau turun. Tetapi saya belajar satu perkara yang indah dari anak saya. Setiap kali ia ketakutan atau ragu-ragu, ia merangkul saya atau ibunya untuk minta perlindungan. Setelah ia ada dalam gendongan saya, segala ketakutan itu sirna begitu saja. Sebagai gantinya, ia malah bersenang-senang. Kini, ia tidak pernah lagi ketakutan asalkan saya dan istri saya ada di dekatnya. Mungkin itulah sebabnya Tuhan mengajar kita untuk menjadi seperti seorang anak kecil. Ya, seorang anak kecil tidak pernah gagal menguatkan dan meneguhkan hatinya untuk percaya kepada orang tuanya. Demikianlah seharusnya kita. Terhadap setiap hal baru apapun, baiklah kita menguatkan, meneguhkan hati kita, menaruh percaya kita sepenuhnya kepada Dia yang layak kita andalkan, yang tidak pernah meninggalkan kita. JanjiNya harus terpatri dalam hati kita, "...Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau...Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, menyertai engkau kemanapun engkau pergi."
3. Sungguh-sungguh Berusaha untuk Mengenal dan Menangkap Angin Kegerakan Baru dari Tuhan
Sudah menjadi suatu pola yang hampir tidak dapat dihindari, bahwa seringkali kegerakan Tuhan justru dihalangi oleh hamba-hamba Tuhan atau bahkan gereja Tuhan sendiri yang paling bersemangat untuk menolak angin lawatan segar dari Tuhan yang membawa kebangunan rohani. Sudah tidak terhitung hamba-hamba Tuhan yang melakukan blunder dengan menerima apa Tuhan tolak dan menolak apa yang sebenarnya berasal dari Tuhan. John Hus dan Martin Luther merupakan kisah klasik untuk hal ini. John Hus yang menyampaikan kebenaran Firman Tuhan tanpa kompromi malah dibakar hidup-hidup oleh para pemimpin gereja. Martin Luther sendiri seumur hidup mendapat cap sebagai orang sesat, musuh gereja serta menjadi buronan dengan risiko dihukum mati jika tertangkap. Ironisnya, di waktu-waktu kemudian Luther dan pengikut-pengikutnya juga gencar menuduh gerakan-gerakan baru baik di bidang rohani maupun ilmu pengetahuan sebagai hal-hal yang bukan dari Tuhan. Sebagai contoh, Copernicus, seorang astronom terkenal yang juga anak Tuhan yang sangat mencintai gereja, terlunta-lunta dan sangat tertekan seumur hidupnya karena menghadapi kecaman dari pihak gereja maupun tokoh-tokoh reformasi seperti Luther dan Calvin karena ia berusaha membuktikan bahwa bumi bukan pusat alam semesta dan bahwa bumilah yang mengitari matahari bukan sebaliknya. Dan daftar kisah-kisah seperti ini terus bertambah hingga hari ini. Pertanyaannya adalah mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satu sebabnya adalah bahwa gereja atau hamba-hamba Tuhan tersebut tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengenali apalagi menangkap kegerakan baru dari Tuhan itu. Mereka merasa cukup dengan pengetahuan mereka tentang Tuhan dan tidak merasa perlu untuk mengenal lebih banyak lagi. Sesungguhnya mereka yang bijak dan tahu menimbang segala sesuatu tidak perlu melakukan hal-hal memalukan yang akhirnya dikenang oleh sejarah sebagai suatu kebodohan yang konyol.
FirmanNya kepada kita yang berkata, "Lihat......" dan "...belumkah kamu mengetahuinya?" memerintahkan kepada kita untuk sungguh-sungguh memperhatikan, menimbang, menguji, memeriksa, menyelidiki, dan akhirnya menilai apakah ini hal-hal baru ini berasal dari Tuhan atau tidak. Bayangkanlah sekarang apabila Rasul Petrus yang berdoa di atas sotoh salah satu rumah di Yope dan kemudian menjadi lapar menolak mentah-mentah, sama sekali tidak peduli akan penglihatan yang diterimanya ( Kis. 10:9-16 ). Petrus ternyata diutus untuk membawa berita Injil kepada Kornelius, seorang non-Yahudi pertama yang mendengar Injil keselamatan. Coba saja pikirkan, apa yang terjadi jika ternyata Petrus tidak bertanya-tanya dalam hatinya (Kis. 10:17) mengenai arti penglihatan dari Tuhan itu. Salah satu efek terbesar jika Petrus gagal menanggapi kehendak Tuhan pada waktu itu pastilah bahwa Petrus tidak akan dipakai oleh Tuhan menjadi alat untuk membawa berita keselamatan Injil ke seluruh dunia.
Untuk mengetahui hal-hal yang baru dari Allah tidak sesukar yang sering kita pikirkan. Tuhan berjanji bahwa jika berseru kepadaNya, maka Dia akan menjawab kita dan akan memberitahukan kepada kita hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kita ketahui ( Yer. 33:3 ). Dan jika kita mencari Dia dengan segenap hati, maka kita akan menemukan Dia dan jika kita menanyakan Dia, Ia akan menyatakan diriNya kepada kita ( Yer. 29:13-14 ). Sesungguhnya, Ia akan muncul sepasti fajar bagi mereka yang berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal Dia! ( Hos. 6:3 ).
4. Mengarahkan Diri Kepada Tujuan dan Masa Depan Baru yang Dijanjikan Tuhan
Setelah mengenali bahwa suatu kegerakan ini benar-benar berasal dari Tuhan, maka kita yang terpanggil harus menanggapinya dengan mengarahkan diri kita kepada masa depan baru yang Tuhan janjikan itu. Hanya saja, untuk dapat mengarahkan diri hanya kepada satu tujuan bukan perkara yang mudah. Kita harus berusaha dengan gigih, tekun, penuh pengorbanan dan latihan-latihan dalam konsentrasi kita. Mereka yang tidak mengarahkan dirinya hanya untuk tujuan utama terancam tidak dapat mencapai tujuan itu sama sekali.
Cukup banyak orang yang akhirnya hidup di bawah standard mereka karena mereka tidak bersedia membayar harga dalam mengarahkan diri mereka kepada tujuan mereka. Ada yang semula bercita-cita menjadi penyanyi, tetapi kemudian ternyata dunia akting dan model membawa penghasilan lebih banyak maka mereka pun berhenti menyanyi. Tidak kurang mereka yang semula berangan-angan untuk memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa dan negara dengan menjadi para politisi namun akhirnya tipu daya kekayaan dan kedudukan menempatkan mereka di kursi terdakwa sampai mereka pun menghuni sel tahanan karena kasus korupsi. Yang jauh lebih menyedihkan ialah mereka yang pada awalnya ingin mencari penghidupan dengan cara yang halal tetapi karena kurang ketekunan, mereka pun mencari nafkah dengan cara melawan hukum atau menjual diri. Semua terjadi karena tidak adanya fokus kepada tujuan.
Sebuah kisah menggelikan sekaligus menyedihkan terjadi di Amerika. Suatu kali, seorang hamba Tuhan memeriksa Halaman Kuning di buku telepon dan menjumpai nama satu restaurant yang agak aneh. Nama restaurant itu Church of God Grill (artinya Steak Gereja Tuhan). Karena ingin tahu, hamba Tuhan ini menelpon restaurant tersebut. Dan inilah penjelasannya. Semula tempat itu sebenarnya adalah sebuah gereja. Karena ada program gereja yang membutuhkan biaya yang besar, mereka mencari dana dengan berjualan steak untuk makan malam sepulang kebaktian Minggu sore. Banyak jemaat dan kemudian orang-orang yang lain merasa cocok dengan steak yang dijual sehingga dalam waktu singkat mereka menjadi terkenal dan laris. Ini membuat mereka menutup kebaktian Minggu sore untuk dipakai berjualan secara penuh. Dalam perkembangannya, karena minat yang sangat besar dari para pelanggan, mereka menutup gereja dan memilih mengembangkan bisnis restaurant itu. Karena sudah terkenal, mereka menggunakan nama yang semula dipakai yaitu Steak Gereja Tuhan. Bagaimana pendapat Anda dengan kisah di atas? Sekilas memang lucu tetapi ini mendukakan hati Tuhan. Bagi orang-orang yang tidak mengarahkan diri kepada tujuan Tuhan, maka penyimpangan dan kejatuhan tinggal menunggu saatnya.
Rasul Paulus memberikan rahasia keberhasilannya untuk tetap berada di pusat kegerakan Tuhan seumur hidupnya. Pertama, ia melupakan apa yang di belakangnya. Ia melupakan bahwa dulu dirinya adalah musuh Tuhan dan gerejaNya, bahwa dia seorang pembunuh, bahwa dia seorang Farisi jenius dengan lulusan terbaik di sekolahnya. Paulus memang tidak akan pernah dapat menghapus ingat-ingatan akan nama dan perbuatannya yang dahulu tetapi dia tidak dikuasai oleh kenangan-kenangan masa lalunya. Ia menjadikan dirinya seolah-olah lupa akan kegagalan atau keberhasilannya untuk menjemput kehidupan baru di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan kekasih jiwanya. Kedua, ia mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapannya. Di hati Paulus tidak ada kata berbalik atau mundur. Ia menetapkan bagi dirinya untuk terus maju dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Tidak pernah berhenti sampai tujuannya di dalam Tuhan tergenapi. Ia menjangkau ke depan, ia mengarahkan dan memaksa dirinya untuk tetap maju di dalam kegerakan Tuhan. Tetapi ini pun belum cukup, Paulus masih memiliki satu rahasia lagi.
5. Mengerahkan Segala Daya Upaya yang Ada untuk Mengambil Bagian dalam Rencana Allah Sekarang Ini
Dalam Filipi 3:13-14, kita dapat mengetahui mengapa Paulus bisa menjadi pengikut Kristus yang setia sekaligus menjadi hamba Tuhan yang luar biasa. Di situ ia berkata, "... ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." Rahasia ketiga Paulus untuk hidup dalam pusat kegerakan Tuhan adalah ia berlari-lari kepada tujuan. Apa artinya?
Para pembaca terkasih di dalam Tuhan, ada dua kata yang perlu saya jelaskan ulang dari ayat di atas. Kata pertama adalah "berlari-lari" dan kata kedua "tujuan". Dalam banyak terjemahan, kata berlari-lari bukan sekedar lari pagi, lari kecil, lari di tempat, atau latihan lari. Kata itu berarti 'lari sekencang-kencangnya untuk menangkap seseorang' atau 'lari sekuat tenaga seperti seorang atlet lari yang hendak meraih kemenangan'. Ini berarti mengerahkan segala daya upaya, meregangkan segala kemampuan diri untuk mencapai tujuan! Kata kedua, yang perlu dijabarkan ulang adalah tujuan. Dalam bahasa aslinya, kata tujuan mengandung makna tanda garis finish dalam perlombaan lari. Jadi, jelaslah di sini bahwa yang dimaksud sebagai berlari-lari kepada tujuan tidak lain adalah mengerahkan segala upaya kita untuk mengambil bagian dalam kegenapan panggilan Allah dalam hidup kita.
Kegerakan Tuhan itu cepat. Tuhan tidak memiliki waktu yang dapat dibuang percuma. Ia ingin rencana keselamatanNya digenapi atas kota-kota dan bangsa-bangsa di dunia ini. Bayangkan saja, jika untuk urusan duniawi atau keuntungan yang dapat habis -seperti uang- seorang bos atau direktur perusahaan menginginkan para karyawannya bekerja dengan cepat dan efektif, maka urusan kekekalan jauh lebih penting daripada semuanya itu. Itulah sebabnya, banyak perumpamaan Alkitab menggunakan contoh perlombaan lari atau pertandingan olahraga yang berat ( Fil. 3:13; 1 Kor. 9:25-26; 1 Tim. 6:12; 2 Tim. 2:5; Ibr. 12:1 ) atau bahkan keprajuritan dan peperangan ( Ef. 6:10-18; 2 Tim. 2:4 )
dalam menggambarkan kehidupan kita mengiring Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan pasti akan dengan senang hati menempatkan setiap orang yang mau berlari-lari kepada tujuan untuk bergabung dalam anggota tim kegerakanNya. Mereka yang bersedia mengerahkan segala keberadaan mereka bagi rencana Tuhan pasti masuk dalam setiap angin baru kegerakanNya.
dalam menggambarkan kehidupan kita mengiring Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan pasti akan dengan senang hati menempatkan setiap orang yang mau berlari-lari kepada tujuan untuk bergabung dalam anggota tim kegerakanNya. Mereka yang bersedia mengerahkan segala keberadaan mereka bagi rencana Tuhan pasti masuk dalam setiap angin baru kegerakanNya.
PENUTUP
Kesalahan orang-orang Kristen dalam menanggapi perkara-perkara baru dari Tuhan tidak jauh dari keempat hal di atas. Ada yang sejak awal gagal karena tidak bersedia melupakan kehidupan lama mereka. Tetapi ada pula yang gagal karena kemalasan mereka menyelidiki kebenaran kegerakan Tuhan itu atau tidak berfokus kepada tujuan Tuhan yang agung. Sebagian besar mereka yang setia kepada Tuhan dapat melakukan semua tiga hal tadi. Namun untuk mencapai hasil terbaik dan tidak pernah ketinggalan satu jengkal pun dalam rencana Tuhan, kita harus MENGUSAHAKAN SELURUH KEBERADAAN KITA untuk hidup di dalam panggilan Tuhan.
Tidaklah cukup kehidupan kita menjadi Kristen dan mengalami hidup yang baru; kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tidaklah cukup kita sekedar mengenal Tuhan; kita harus mengarahkan diri kepada tujuan-tujuan Tuhan. Juga tidaklah cukup kita menjaga langkah kita supaya tidak menyimpang; kita harus mengusahakan sekuat tenaga untuk menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita.
Maka kita pasti akan meraih mahkota yang telah disediakan bagi kita. Maka kita akan berkemenangan di dalam Tuhan. Maka kita masuk dalam kebahagiaan Tuhan selama-lamanya di surga.
Seorang penulis, Herb Caen, pernah mengulas : "Setiap pagi di Afrika, seekor rusa Gazelle bangun. Ia sadar bahwa ia harus lari lebih cepat daripada singa yang paling cepat atau ia akan mati dimangsa. Setiap pagi seekor singa bangun. Dan ia juga sadar bahwa ia harus lari lebih cepat dari rusa gazelle yang paling lambat atau ia akan mati kelaparan. Tidak peduli, apakah Anda singa atau gazelle; ketika matahari terbit, Anda sebaiknya terus berlari". Para pembaca terkasih di dalam Tuhan, jika singa dan rusa harus lari untuk menyambung hidup di dunia ini saja, juga para atlet berlari untuk mendapatkan medali yang dapat musnah; kita seharusnya bersyukur dan berusaha lebih keras karena kita berlari untuk upah yang kekal, mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25).
Mari sambut awal yang baru dalam Tuhan! Marilah kita hidup di dalamnya hingga rencanaNya atas hidup kita digenapi! Amin.
"Tuhan tidak memanggil orang-orang yang mampu. Dia memanggil orang-orang yang mau dan kemudian memampukan mereka".
~ Richard Parker
0 komentar:
Posting Komentar
Mohon TIDAK menggunakan kata-kata kotor atau kasar yang tidak memuliakan nama Tuhan. Terima kasih atas perhatiannya. Salam Revival!
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.