KOMUNITAS PERSATUAN INTERDENOMINASI GEREJA YANG MEMPERJUANGKAN TERJADINYA KEBANGUNAN ROHANI

MENCARI KEMUDAHAN DENGAN MENGIKUT YESUS?

Posted By passion for revival on Selasa, 13 Februari 2018 | 6:00 AM


Oleh: Peter B, MA



Nats :
Dari karena segala lawanku aku telah menjadi kecelaan belaka bagi orang sekampungku dan suatu ngeri bagi kenal-kenalanku; barangsiapa yang di luar memandang akan daku yaitu lari jauh dari padaku. ”
~ _Mazmur 31:12,TL


Seperti sudah kita ketahui bersama, Daud disebut orang yang berkenan di hati Tuhan. Meskipun demikian, tidak seperti perkiraan banyak orang, sebagian tahun-tahun kehidupan Daud, dijalani di dalam kesukaran dan penderitaan yang tidak ringan.

Ayat yang kita baca di atas, merupakan bagian dari Mazmur yang ditulis Daud di saat ia mengalami kesesakan yang besar. Sedemikian besarnya, sehingga Daud mengatakan bahwa kesengsaraan yang dialaminya, tidak hanya datang dari lawan-lawannya. Orang-orang di sekitarnya menjadi takut kepadanya oleh karena ia dianggap membawa celaka, begitu pula dengan orang-orang yang mengenal dia. Orang-orang yang dianggapnya dekat telah memandangnya dengan ngeri. Bahkan setiap orang di jalan yang menemuinya berusaha menjauh darinya.

Inilah suatu gambaran akan penolakan yang besar dalam hidup seseorang. Ia tidak diterima di manapun. Ia bagaikan menjadi musuh semua orang dan musuh seluruh bangsa. Dan itu dialami oleh Daud. Kita tidak tahu persis kapan tepatnya Daud mengalami hal ini. Ada yang menduga bahwa itu terjadi saat Daud sedang diburu serta diinginkan kematiannya oleh Saul. Tetapi satu hal yang pasti, Daud mengalami penderitaan yang hebat. Orang yang dibanggakan dan dipandang telah menyukakan hati Tuhan, ternyata tidak luput dari kehidupan yang sukar lagi berat.

Apa yang kita baca dari Mazmur 31 di atas, seharusnya membuka mata rohani kita untuk dapat memahami lebih jelas akan jalan-jalan Tuhan, sekaligus menjadikan pikiran kita lebih terang sehingga kita tidak mudah ditipu oleh pengajaran-pengajaran yang sepertinya bersumber dari firman Tuhan, tetapi tidak tepat demikian. Kita harus menjadi lebih paham dan memiliki hikmat Tuhan untuk membedakan mana yang merupakan pesan firman-Nya dan mana yang sekedar menyerupai perkataan-Nya.


KEHIDUPAN YANG BEBAS DARI MASALAH DAN PENDERITAAN BUKAN RENCANA DARI TUHAN
Kita tahu bahwa kerap kali disampaikan dan diajarkan di mimbar-mimbar gereja kita hari ini (terutama oleh gembala-gembala sidang sendiri) suatu pesan bahwa apabila kita percaya kepada Yesus, maka hidup kita akan senantiasa berhasil, diberkati, kaya raya, dimudahkan di dalam segala urusan, penuh dengan berbagai mujizat dan terobosan yang luar biasa. Ini semakin tak terbantahkan dengan begitu banyak hari ini yang menyanyikan doa Yabes. Yang intinya, memohon berkat yang berlimpah limpah, diperluas kekuasaannya, supaya Tuhan menyertai dan melindungi sehingga kesakitan tidak menimpa atas kita. Tanpa penafsiran dan penjelasan yang benar, sangat kuat kesan bahwa itu merupakan doa yabg mendasarkan pada janji Tuhan kalau hidup kita bisa mengalami berbagai kemudahan sebagai umat-Nya.

Jika itu benar, bagaimana dengan yang dialami oleh Daud?
Bagaimana bisa ia sampai mengalami penderitaan yang begitu hebatnya sehingga semua orang menjadi ngeri lalu menjauhi dia, seakan-akan tidak ada tempat lagi baginya?

Fakta Alkitab menunjukkan bahwa Daud harus menjalani suatu kehidupan yang keras dan penuh penderitaan sebelum ia menjadi pemimpin atas seluruh Israel. Beberapa kali Daud tergelincir. Tidak jarang ia menjadi lemah dan jatuh. Dalam perjalanan yang memakan waktu bertahun-tahun ini, bisa saja Daud menjadi kecewa dan putus asa. Mungkin saja ia menjadi frustrasi dan menyerah pada keadaan karena merasa bahwa janji Tuhan tidak segera menjadi kenyataan, atau menganggap bahwa Tuhan tidak berlaku adil kepadanya.

Bukankah itu sangat sering terjadi dan kita lihat di antara anak-anak Tuhan sendiri? Di mana tidak sedikit yang melepaskan imannya atau berubah hati dan komitmennya kepada Tuhan ketika melihat kehidupannya yang selama ini ia rasa telah cukup taat kepada Tuhan, nyatanya terasa justru semakin berat dan sulit untuk dijalani?

Penderitaan yang dialami oleh seorang percaya pada umumnya disebabkan oleh dua hal: akibat dosa atau karena seijin Tuhan demi tujuan pembentukan-Nya supaya yang diproses menjadi pribadi yang diperbesar kapasitasnya demi kemuliaan Tuhan. Menilik dari yang dialami Daud, dengan mengamati isi pasal 31 dari Mazmur tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa itu bukan merupakan akibat dari kesalahan Daud. Tuhanlah yang mengijinkan segala kesukaran dan penderitaan itu dialami oleh Daud. Ia sedang memproses hidup Daud. Dan tidak ada yang mudah atau menyenangkan di dalam suatu proses. Entah itu memproses logam mulia atau biji besi menjadi perkakas atau perhiasan yang indah maupun proses memasak suatu makanan, semua dilewati dengan susah payah dan kerja keras. Sukar menemukan suatu proses yang dapat dilalui dengan mudah. Atau jika itu dapat dilewati tanpa halaman, mungkin kita tidak akan menyebutnya sebagai suatu proses.

Begitu pula saat Tuhan berurusan dengan kita. Ia yang rindu kita menjadi sempurna menurut gambaran Yesus, teladan kita, akan membawa kita melewati proses demi proses di mana kita harus belajar taat dan menyerahkan kehendak kita supaya akhirnya semata-mata rela melakukan kehendak-Nya. Itu kerap kali membutuhkan waktu yang lama, melewati tahun-tahun yang panjang dari kehidupan kita. Tak jarang beberapa orang gagal mencapai target yang ditentukan Tuhan hingga ajal menjemput, bagaikan orang-orang Israel yang tidak pernah mencapai tanah perjanjian oleh sebab binasa di padang gurun. Sesuatu yang penuh dengan resiko, namun itulah yang hendak diadakan Tuhan atas hidup kita.

Menuruti sifat dasar kita sebagai manusia yang berdosa, tidak ada seorang pun dari kita yang suka hidup dalam masalah yang membawa kepada penderitaan. Tetapi harus kita sadari, bahwa banyak kali kita sebagai manusia baru dapat bertumbuh ketika menghadapi tantangan, masalah dan kesukaran dalam hidup kita. Contoh sederhana, semenjak bayi kita dilatih untuk duduk, berdiri, dan berjalan. Kita dipaksa untuk menegakkan badan, menggerakkan tangan dan kaki untuk meraih sesuatu, diletakkan dalam suatu stroller (alat yang melingkar di pinggang dan beroda) supaya kita terbiasa untuk berdiri dan melangkahkan kaki. Hanya dengan cara itulah kita akhirnya benar-benar menjadi makhluk-makhluk yang normal, yang tumbuh secara sewajarnya sebagaimana layaknya seorang manusia. Dan proses itu masih terus berjalan melalui masa masa sekolah, mencari nafkah, menekuni profesi, hingga hidup mandiri dan berkeluarga.

Sesungguhnya hidup adalah proses untuk mencapai tahap selanjutnya yang lebih baik dan lebih tinggi. Yang hampir semuanya dilalui dengan menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah serta tantangan dalam hidup. Mereka yang menolak untuk menghadapi kesulitan sehingga lebih suka memilih jalan yang mudah dalam hidup, umumnya jarang menjadi pribadi-pribadi yang dianggap sukses oleh dunia. Dan jika dunia menghargai orang-orang yang mau bekerja keras melewati berbagai rintangan, betapa lebih lagi Tuhan menghargai anak-anak-Nya yang rela menanggung dan menjalani proses pembentukan-Nya!


JANGAN HINDARI KESUKARAN HIDUP YANG TERJADI KARENA PROSES TUHAN
Janji keberhasilan Tuhan disediakan bagi orang yang mau menjalani proses Tuhan dengan tekun. Itu terjadi atas Daud. Dan kita harus yakin itu juga terjadi pada Yabes dengan melalui proses. Sebab tidak ada cara yang instan dalam Tuhan. Meskipun Yesus bisa mengubah batu menjadi roti, Ia tidak pernah melakukannya, baik pada saat Ia sedang kelaparan atau ketika hendak memberi makan 5000 orang. Bahkan Yesus harus turun dan mengambil rupa manusia yang menghamba sampai akhirnya mati di atas kayu salib demi mengerjakan karya keselamatan bagi kita.

Semuanya itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyukai cara-cara yang mudah untuk mencapai sesuatu sekalipun Ia mampu melakukannya. Ia pun akan mendidik anak-anak-Nya dengan keras dan disiplin supaya dapat menjadi saksi-saksi bagi-Nya dan membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Melalui berbagai keadaan yang sukar dan kondisi-kondisi yang tidak mudah kita dipersiapkan dan dilatih seperti layaknya seorang murid yang belajar keras di sekolah terbaik atau seorang prajurit yang digembleng dalam berbagai situasi yang berat. Tanpa itu semua, niscaya kita tetap tinggal dalam kelemahan, kebodohan, dan ketidakmampuan.

Bacalah pesan dari surat Ibrani di bawah ini, dan simpulkanlah sendiri apakah memang kehidupan di dalam Tuhan menjanjikan kemudahan, kenyamanan serta keberhasilan secara gampang:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
~ Ibrani 12:1, 4-11 (TB)

Bukankah jelas jika Dia benar merupakan bapa kita yang baik, yang mengakui kita sebagai anak-Nya, maka Ia pasti mendidik bahkan menghajar kita demi kebaikan dan kedewasaan kita?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
Yakobus 1:2-4 (TB)


Kiranya pikiran kita dibukakan oleh kuasa Roh Kudus bahwa hidup mengiring Kristus bukankah kehidupan yang mudah. Semakin kita hendak dijadikan alat yang efektif di tangan-Nya, semakin berat dan menyakitkan proses yang harus kita lalui.
Itu sebabnya, jika kita rindu Tuhan berkenan memakai kita sebagai sarana memuliakan Dia dan menjadi berkat bagi banyak orang, kita harus rela merangkul susah payah proses Tuhan dan dengan tabah melangkah di jalan yang sempit itu. Inilah jalan Tuhan yang terus dinyatakan di setiap bagian kitab suci. Jalan inilah yang ditempuh oleh setiap murid sejati Tuhan maupun hamba-hamba yang setia yang kita kenal hari ini sebagai raksasa-raksasa iman. Jalan yang tak terbayangkan sukarnya tapi juga tak terlukiskan sukacita dan kebanggaan saat melewatinya.

Sebaliknya, sadarilah, apabila kita menghindari, lari dan menolak proses ini, sudah tentu kita tidak akan mencapai sebagaimana teladan-teladan iman sebagaimana yang telah kita dengar dan kagumi selama ini. Dan yang lebih buruk daripada semuanya, kita telah tersesat dengan mengira jika selama ini kita telah berada di jalan yang benar dan sedang mengikut Tuhan, padahal tidaklah demikian.

Mari memeriksa diri. Jika kemudahan serta berkat yang kita harapkan sebagai yang pertama dalam ibadah kita pada Tuhan, maka bisa jadi kita tidak sedang mengikut Kristus tetapi mengikut serta menyembah Allah rekaan kita sendiri, yang sama dengan gambaran para penyembah berhala yang menginginkan segala berkat, rezeki, kemudahan serta kesuksesan supaya dapat menikmati kenyamanan atau kemewahan selama di dunia sekarang ini.

Kita tahu kita telah menjadi murid Tuhan yang sebenarnya saat kita dapat menjawab 'ya' atas pertanyaan : apakah kita rela dan mau menjalani pembentukan Tuhan seperti Daud yang harus melalui saat-saat yang sangat suram akibat penolakan manusia?

Jalan sejati itu seperti yang dilalui Kristus dan para rasul-Nya.
Jalan yang akan berakhir pada kemuliaan abadi tiada tara.
Tetapi harus dijalani dalam proses yang tidak mudah.

Adakah Anda termasuk sebagai anak-anak Tuhan namanya terdaftar dalam sekolah Tuhan hari ini?

Salam revival

Indonesia penuh kemuliaan Tuhan
 
 
   
 
   
Blog, Updated at: 6:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon TIDAK menggunakan kata-kata kotor atau kasar yang tidak memuliakan nama Tuhan. Terima kasih atas perhatiannya. Salam Revival!

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.